TEORI MASUKNYA
ISLAM KE NUSANTARA
Masuknya Islam di Indonesia pada abad ke V tidak bisa
dilepaskan dari sejarah perdagangan dan pelayaran antar benua yang berlangsung
pada masa itu. Kendati demikian, para ahli masih bersilang pendapat tentang
bagaimana proses masuknya budaya dan agama Islam tersebut hingga bisa
mengalahkan kebudayaan dan agama yang telah ada sebelumnya, yakni Hindu dan
Budha. Berbagai teori pun berkembang dengan disertai bukti dan fakta pendukung.
Pada modul ini akan dijelaskan tentang teori-teori masuknya Islam Ke Indonesia
bacalah dengan baik.
1.
Teori Makkah
Teori Arab atau Teori Makkah menyatakan
bahwa proses masuknya Islam di Indonesia berlangsung saat abad ke-7 Masehi.
Islam dibawa para musafir Arab(Mesir) yang memiliki
semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh
belahan dunia. Tokoh yang
mendukung teori ini adalah Van Leur,
Anthony H. Johns, T.W Arnold, Buya Hamka, Naquib al-Attas, Keyzer, M. Yunus Jamil,
dan Crawfurd.
Teori masuknya Islam
di Indonesia ini didukung beberapa
3 bukti utama, yaitu
·
Pada abad
ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam
(Arab), dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak
abad ke-4. Hal ini juga sesuai
dengan berita Cina.
·
Kerajaan
Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i
terbesar pada waktu itu adalah Mesir
dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
·
Adanya penggunaan gelar Al Malik pada raja-raja
Samudera Pasai yang hanya
lazim ditemui pada budaya Islam di Mesir.
·
Para ahli
yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan
politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya
yaitu abad ke-7 dan yang berperan besar
terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
Hingga kini, teori Arab dianggap sebagai
teori yang paling kuat. Kelemahannya hanya terletak
pada kurangnya fakta
dan bukti yang menjelaskan
peran Bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia.
2.
Teori Persia
Umar Amir Husen dan Hoesein
Djajadiningrat sebagai pencetus sekaligus pendukung teori Persia menyatakan
bahwa Islam yang masuk di Indonesia pada abad
ke 7 Masehi adalah Islam yang dibawa
kaum Syiah, Persia.
Teori ini didukung adanya beberapa bukti pembenaran
di antaranya:
·
Peringatan
10 Muharram atau Asyura atas
meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh
orang Syiah/Islam Iran.
·
Di Sumatra
Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di
pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
·
Kesamaan ajaran
Sufi
·
Penggunaan istilah
persia untuk mengeja
huruf Arab
·
Kesamaan seni kaligrafi pada beberapa batu nisan
·
Bukti maraknya
aliran Islam Syiah khas Iran pada awal masuknya Islam di Indonesia.
·
Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik.
Dengan
banyaknya bukti pendukung yang dimiliki, teori
ini sempat diterima sebagai teori masuknya Islam
di Indonesia yang paling benar oleh sebagian
ahli sejarah. Akan tetapi, setelah ditelisik, ternyata teori ini juga
memiliki kelemahan. Bila dikatakan
bahwa Islam masuk
pada abad ke 7, maka kekuasaan
Islam di Timur Tengah masih dalam genggaman Khalifah Umayyah yang berada di Damaskus, Baghdad,
Mekkah, dan Madinah. Jadi tidak memungkinkan bagi
ulama Persia untuk menyokong penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara.
3.
Teori Gujarat
Tokoh
yang mendukung teori
ini adalah para ilmuwan Belanda
seperti Pijnappel dan Moqette
yang mengatakan bahwa yang membawa agama Islam ke Indonesia ialah orang- orang
Arab yang sudah lama tinggal di Gujarat (India). Menurut mereka, Islam masuk ke
Indonesia sejak awal abad ke 13 Masehi bersama dengan hubungan dagang
yang terjalin antara
masyarakat Nusantara dengan
para pedagang Gujarat yang
datang, dengan jalur Indonesia-Cambay- Timur Tengah- Eropa.
Snouck Hurgronje yang juga sebagai ilmuwan Belanda
berpendapat bahwa hubungan dagang Indonesia dengan orang-orang Gujarat telah
berlangsung lebih awal dibanding dengan orang-orang Arab. Teori masuknya Islam
di Indonesia yang dicetuskan Hurgronje dan Pijnapel ini didukung oleh beberapa bukti:
·
Batu nisan
Sultan Samudera Pasai Malik As-Saleh (1297) dan batu nisan Syekh Maulana Malik
Ibrahim di Gresik memiliki kesamaan dengan batu nisan yang berada di Cambay.
·
Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia)
yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di
Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan
banyak pedagang Islam dari
India yang menyebarkan ajaran Islam.
Selain memiliki bukti,
teori ini juga mempunyai kelemahan. Kelemahan teori Gujarat ditunjukan pada 2 sangkalan. Pertama, masyarakat Samudra
Pasai menganut mazhab Syafii, sementara masyarakat Gujarat lebih banyak
menganut mazhab Hanafi. Kedua, saat islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih
merupakan Kerajaan Hindu.
4.
Teori Cina
Teori China yang dicetuskan oleh Slamet
Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby menyebutkan bahwa, Islam masuk ke Indonesia
karena dibawa perantau Muslim China yang datang ke Nusantara. Teori ini
didasari pada beberapa bukti,yaitu:
·
Fakta
adanya perpindahan orang-orang muslim China dari Canton ke Asia Tenggara,
khususnya Palembang pada abad ke 879 M ditandai dengan bukti fisik biologis
orang-orang Sumatera bagian Selatan memiliki
pertautan genetik sehingga
postur tubuh dan muka memiliki kemiripan. Belum lagi persamaan budaya atau pengaruh budaya
China di dalam tradisi kesenian
Sumatera bagian Selatan sangat
kuat pengaruh Chinanya.
·
Adanya
masjid tua beraksitektur China di Jawa yakni Masjid Cheng Ho di Surabaya.
Masjid ini merupakan Masjid pertama di Indonesia yang menggunakan gaya
arsitektur China. Masjid yang kaya akan ornamen khas negeri Tirai Bambu ini
didirikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Laksamana Cheng Ho yang
merupakan seorang bahariawan muslim China yang menyebarkan agama Islam di bumi
Indonesia.
·
Penyeberangan
China muslim ke Pulau Jawa seperti Kerajaan Demak pernah mempunyai keturunan
darah China (Raden Patah).
·
Gelar raja-raja demak yang ditulis
menggunakan istilah China seperti “Cek Ko
Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-Cu”. Hal ini didasarkan pada Sejarah Banten dan
Hikayat Hasanuddin..
·
Catatan
China yang menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali
diduduki oleh para pedagang China.
Pada dasarnya semua teori tersebut
masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing masing teori tersebut.
Menurut Azyumardi Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas, artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok
tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan.



